Miralay’s World

September 12, 2005

4 Hal Yang Harus Dihindari Saat Menidurkan Si Kecil

Filed under: Knowledges

Membuat bayi tertidur adalah gampang tetapi membuat bayi tertidur nyenyak gampang-gampang susah. Berikut ini tip dari CQ 4 hal yang harus dihindari bila ingin membuat buah hati Anda tertidur pulas.

Mengayun-ayunkan si kecil. Ia memang akan lebih mudah tidur karena efek ayunan tangan Anda yang menenangkan, namun di mudian hari si kecil akan menuntut Anda untuk terus melakukannya. Hal ini akan merepotkan bila sewaktu-waktu Anda tidak ada di rumah atau sedang letih.

Membiarkan si kecil tertidur dalam posisi menyusu pada ibu. Tindakan ini bukan hal yang bijaksana. Saat terbangun tengah malam si kecil pasti mengharapkan hal yang ditemuinya sebelum tidur tetap berada di tempatnya saat si kecil terbangun.

Mencampurkan sereal atau beras tumbuk ke dalam botolnya di malam hari untuk membuat kenyang. Jangan pernah melakukan hal ini lagi karena tindakan ini justru akan membuat si kecil merasa tidak nyaman dengan kekenyangannya.

Memberikan jam tidur yang bebas. Anda harus ajarkan kepada si kecil sejak dini untukmemiliki kebiasaan tidur yang baik dengan menciptakan rutinitas sebelum tidur yang konsisten sebelum si kecil tertidur. Membiasakannya untuk sudah berada di tempat tidur sebelum memejamkan mata adalah contoh yang b

3 Vaksinasi Penting Prakehamilan

Filed under: Knowledges

Di Indonesia, persiapan kehamilan secara khusus dengan vaksinasi masih jarang dilakukan. Kebanyakan perempuan baru datang ke dokter setelah kehamilan mereka memasuki usia satu atau dua bulan. Padahal, pemberian vaksin prakehamilan penting bagi pertumbuhan janin. Terlebih lagi pada 8 minggu pertama ketika fase embriologis berlangsung. Pada masa ini kesehatan ibu harus terjaga secara baik, agar tidak mempengaruhi pertumbuhan janin.

Ada tiga jenis vaksin yang perlu didapatkan ibu prakehamilan untuk melindungi janinnya, yaitu:

Vaksinasi MMR (Measles, Mumps, Rubella)
Rubela adalah infeksi yang ditandai gejala bercak kemerahan (pink-red rash) pada wajah yang kemudian menyebar ke bagian tubuh lain. Penyakit ini disertai demam ringan dan pembesaran kelenjar getah bening. Ibu hamil yang terinfeksi virus rubela pada tiga bulan pertama, berisiko mengalami gangguan pembentukan dan perkembangan janin, sebesar 50-85. Janin yang terinfeksi rubela, mengalami kelainan tipikal yang disebut sindrom rubela kongenital. Kelainan itu dapat berupa gangguan mata (katarak), jantung, atau lingkar kepala yang mengecil (mikrosefalus). Pada umur kehamilan 16-20 minggu, cacat bawaan yang dialami janin adalah ketulian. Sedangkan infeksi rubela pada ibu dengan usia kehamilan lanjut (> 20 minggu) jarang menyebabkan cacat bawaan. Bayi yang terkena cacat karena rubela akan terus menyandang kelainan tersebut selama hidupnya. Umumnya 1 dari 10 bayi yang mengalami infeksi rubela akan meninggal dalam usia satu tahun.

Tidak ada yang dapat dilakukan terhadap janin bila di masa hamil ibu terinfeksi rubela. Pada umur kehamilan 16-20 minggu, cacat bawaan yang dialami janin adalah ketulian. Sedangkan infeksi rubela pada ibu dengan usia kehamilan lanjut (> 20 minggu) jarang menyebabkan cacat bawaan. Bayi yang terkena cacat karena rubela akan terus menyandang kelainan tersebut selama hidupnya. Umumnya 1 dari 10 bayi yang mengalami infeksi rubela akan meninggal dalam usia satu tahun. Tidak ada yang dapat dilakukan terhadap janin bila di masa hamil ibu terinfeksi rubela.

Vaksinasi TT (Tetanus Toksoid)
Tetanus (lockjaw) adalah penyakit yang disebabkan oleh racun bakteri Clostridium tetani. Disebut juga lockjaw karena penderitanya kerap mengalami kejang pada otot rahang. Bakteri tetanus masuk ke dalam tubuh manusia melalui luka. Nah, bila ibu terpapar bakteri tersebut selama proses persalinan, maka infeksi bisa terjadi pada rahim ibu dan pusar bayi yang baru lahir (Tetanus neonatorum).

Biasanya vaksinasi TT ditawarkan pada pasangan calon pengantin yang akan menikah. Sayangnya, banyak pasangan yang menolak. Hal ini terjadi akibat salah pengertian. Banyak yang menyangka bahwa vaksin TT adalah suntikan kontrasepsi untuk menjarangkan kehamilan. Meski kasus ibu hamil menderita tetanus sudah jarang ditemui tindakan pencegahan tetap awal yang baik bukan?

Vaksin Hepatitis
Hepatitis adalah peradangan hati yang disebabkan virus. Infeksi yang ditimbulkan dapat bersifat akut maupun kronik. Mayoritas penderita akan menjadi karier (pembawa) tanpa gejala klinis tapi dapat menularkan penyakit ini karena pada darah terdapat virus hepatitis. Selain dalam darah, virus ini dapat ditemukan pada urin, feses, dan air ludah, tergantung jenis virus. Sifat penularan virus yang sangat mudah, menyebabkan hepatitis dapat ditularkan ibu ke janin selama dalam kandungan, saat dilahirkan, maupun setelahnya.

Risiko penularan tetap tinggi, sekalipun bayi dilahirkan melalui bedah caesar. Meski tidak ditemukan cacat bawaan pada bayi yang terinfeksi hepatitis B sejak dalam kandungan atau jika ibu di masa hamil menderita hepatitis B, bayi-bayi tersebut dapat mengidap penyakit-penyakit hati kronis seperti hepatitis kronis, sirosis hepatis dan hepatoma (tumor hati yang ganas).
Kapankah saat yang tepat melakukan vaksinasi?

Pada saat tubuh dalam kondisi sangat prima. Vaksinasi yang dilakukan saat kondisi tubuh kurang baik, justru akan menyebabkan infeksi.

6 bulan sebelum kehamilan. Dalam rentang waktu tersebut, diharapkan tubuh sudah dapat membunuh semua virus yang diberikan melalui vaksinasi, sehingga pada saat hamil tidak ada lagi virus yang dapat membahayakan janin. Jangan melakukan vaksinasi saat Anda sedang hamil. Karena dikhawatirkan akan membahayakan janin. Boleh dilakukan namun dengan catatan, dokter yang menangani Anda sudah memperhitungkan risiko.

Bila vaksinasi TT tidak dilakukan sebelum menikah, pemberiannya dapat dilakukan pada saat usia kehamilan belum mencapai 7 bulan.

Virus Kawasaki Mengancam Jiwa Anak

Filed under: Knowledges

Setelah digegerkan virus flu burung, kini, masyarakat dikejutkan dengan adanya virus Kawasaki. Virus Kawasaki yang menyerang seorang anak dan dirawat di RS Harapan Kita tidak perlu terlalu dikhawatirkan mengingat virus tersebut sangat langka di Indonesia. Dan, menurut Menkes Siti Fadillah Supari, virus Kawasaki ini selalu ada, tapi bisa diobati.

“Virus Kawasaki itu memang selalu ada. Itu virus biasa. Tapi, pada orang-orang tertentu, ada yang mengakibatkan reaksi imunologis yang akan berefek pada jantung,” kata Menkes kepada wartawan usai silaturahmi bersama pejabat eselon I Depkes dengan pemimpin media massa di Hotel Twin Plaza, Slipi, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Anak yang dirawat di RS Harapan Kita memang memiliki gejala klinik yang mirip virus Kawasaki. Virus yang pertama kalinya muncul di Jepang ini, menimpa anak dan berkomplikasi dengan pembuluh darah jantung. “Kemarin yang di Harapan Kita itu, tampaknya begitu. Tapi ini bisa diobati,” lanjut Menkes. Kasus virus Kawasaki ini masih sedikit di Indonesia. Tahun lalu, tercatat ada dua orang yang terkena virus ini.

Demam Tinggi, Waspadalah!
Lalu, apa sih virus kawasaki itu atau dalam dunia medis dikenal dengan Sindrom Kawasaki atau sindrom kelenjar getah bening Mukokutaneus, Sindrom ini merupakan suatu penyakit non-spesifik, tanpa agen infeksius tertentu. Penyakit ini menyerang penderita pada bagian selaput lendir, kelenjar getah bening, lapisan pembuluh darah dan jantung. Penyebab pasti dari Sindrom Kawasaki hingga saat ini belum diketahui. Namun diperkirakan penyebabnya toksin superr antigen bakteri yang dikeluarkan staphylococcus aureus atau oleh grup A. streptococci, demikian menurut uraian Dr. Susilo, spesialis anak.

Penyakit ini pertama kali ditemukan di Jepang sekitar tahun 1960-an. Dan, penyakit inipun menyerang anak berumur 2 bulan sampai S tahun dan 2 kali lebih Bering ditemukan pada anak laki-laki, lanjut Susilo. Sekitar 80 persen kasus ditemukan pada balita. Kasus sindrom kawasald terjadi banyak pada musim dingin atau musim semi di beberapa negara. Jepang merupakan negara yang paling banyak ditemukan kasus ini. Puncaknya terjadi pada tahun 1984 - 1985. KLB dilaporkan pemah terjadi pada beberapa negara bagian di Amerika Serikat. Penyakit ini telah tersebar diseluruh dunia. Namun cara penularan belum diketahui dan belum ada bukti terjadi penularan dari orang ke orang. Bahkan masa inkubasi dan masa penularan virus kawasaki belum diketahui.

Memang untuk mendiagnosis penderita terserang virus Kawasaki bukanlah perkara mudah, ujar Susilo. Diagnosis baru dapat dilakukan bila terjadi demam yang turun naik dengan suhu tubuh 39 derajat celcius selarna lebih dari 5 hari. Dan, demam tersebut tidak memberikan respon terhadap asetaminofen maupun ibuprofen dalam dosis normal. Gejala lain yang perlu diperhatikan terjadi kerewelan pada anak dan tampak mengantuk. Kadang anak merasakan nyeri dan kram di perut.

Selain itu terjadi pula ruam kulit di batang tubuh dan di sekeliling daerah yang tertutup popok. Atau dapat pula ruam terjadi di bagian selaput lendir, lapisan inulut clan vagina misalnya. Anak yang terserang penyakit Kawasaki menunjukkan pula gejala seperti bibir merah, kering dan pecah-pecah, lidah merah seperti stroberi, dan tenggorokan merah.

Dalam beberapa minggu, ada tiga fase perkembangan dari penderita virus kawasaki, yakni fase demam akut berlangsung kira kira 10 hari yang ditandai dengan demam tinggi, kelainan kulit yang muncul secara cepat dan mendadak sebagai akibat dari penyakit, pembengkakan kelenjar, kulit merah karena terjadi pelebaran pembuluh darah. Setelah fase akut, terjadi fase subakut yang berlabgsung kira-kira dua minggu ditandai dengan demam, trombositosis, pengelupasan sisik-sisik lapisan tanduk epidermis (desquamasi), dan mulai menurunnya demam. Sedangkan fase berikutnya adalah fase konvalesen yang panjang ditandai dengan menghilangnya gejala klinis.

Komplikasi Jantung
Sebenarnya, jika gejala awal cepat diketahui maka penanganan penyakit akan cepat dilakukan. Yang justru dikhawatirkan dengan penyakit kawasaki ini jika terjadi komplikasi.

Sebab, sekitar 5-20 persen penderita mengalami komplikasi jantung, yang biasanya timbal pada minggu ke 2-4. Jika tidak terjadi komplikasi jantung, biasanya akan terjadi pemulihan sempurna. Sekitar 1-2% penderita meninggal, biasanya akibat komplikasi jantung; 50% diantaranya meninggal pada bulan pertama, 75% meninggal pada bulan kedua, 95 % meninggal pada bulan keenam. Tetapi kematian bisa terjadi 10 tahun kemudian dan kadang secara tiba-tiba.

Komplikasi bisa berupa peradangan adangan arteri koroner yakni arteri yang membawa darah ke jantung, pelebaran bagian dari arteri koroner (aneurisma), peradangan kantung jantung (perikarditis), peradangan otot jantung (Miokarditis akut, gagal jantung, dan kematian otot jantung (infark miokard). Penyakit sindrom kawasaki selain komplikasi dengan jantung, dapat pula terjadi komplikasi lainnya, seperti ruam yang tidak biasa, nyeri atau peradangan sendi (terutama sendi-sendi yang kecil), peradangan non-infeksius pada selaput otak (meningitis aseptik), peradangan kandung empedu, dan diare.

Pengobatan yang Tepat

Karena sindrom kawasaki tidak diketahui penyebabnya secara pasti, jadi tidak ada cara untuk pencegahan. Yang terpenting untuk Anda adalah segera menghubungi dokter bila anak Anda terserang demam tinggi. Demam tersebut apakah dengan gejala atau tanpa gejala dari sindrom kawasaki. Dengan pemeriksaan segera dokter dapat mengetahui segera sebab-sebab dari demam.

Dan, bila buah hati Anda dinyatakan terserang virus kawasaki, maka pihak medis akan segera memberikan pengobatan. Pengobatan dini secara berarti dapat mengurangi resiko terjadinya kerusakan pada arteri koroner dan mempercepat pemulihan demam, ruam dan rasa tidak nyaman. Selama 14 hari diberikan immunoglobulin dosis tinggi melalui infus dan aspirin dosis tinggi melalui mulut. Setelah demam turun, biasanya aspirin dalam dosis yang lebih rendah diberikan selama beberapa bulan untuk mengurangi risiko kerusakan arteri koroner dan pembentukan bekuan darah.

Pemeriksaan EKG akan dilakukan beberapa kali untuk mendeteksi adanya komlikasi jantung. Aneurisma yang besar diobati dengan aspirin dan obat anti pembekuan (misalnya warfarin). Aneurisma yang kecil cukup diatasi dengan aspirin. Jika anak menderita influenza atau cacar air, untuk mengurangi resiko terjadinya sindroma Reye, sebaiknya untuk sementara waktu diberikan dipiridamol, bukan aspirin.

Waspadai Gejala Berikut

Demam yang turun-naik, tetapi biasanya diatas 39° Celsius, sifatnya menetap (lebih dari 5 hari) dan tidak memberikan respon terhadap asetaminofen maupun ibuprofen dalam dosis normal

Rewel, tampak mengantuk

Kadang timbul nyeri kram perut

Ruam kulit di batang tubuh dan di sekeliling daerah yang tertutup popok

Ruam pada selaput lendir (misalnya lapisan mulut dan vagina)

Tenggorokan tampak merah

Bibir merah, kering dan pecah-pecah

Lidah tampak merah (strawberry-red tongue),

Kedua mata menjadi merah, tanpa disertai keluarnya kotoran.

Telapak tangan dan telapak kaki tampak merah, tangan dan
kaki membengkak

Kulit pada jari tangan dan jari kaki mengelupas (pada hari ke
10-20)

Pembengkakan kelenjar getah bening leher

Nyeri persendian (atralgia) dan pembengkakan, seringkali simetris (pada sisi tubuh kiri dan kanan).
Pemeriksaan Medis
Ada beberapa pemeriksaan yang biasa dilakukan untuk penderita sindrom kawasaki, yakni:

EKG. yang bisa menunjukkan tandatanda dari miokarditis, perikarditis, artritis, meningitis aseptik atau vaskulitis koroner,

Hitung darah lengkap, yang menunjukkan peningkatan jumlah sel darah, putih dan anemia (berkurangnya jumlah sel darah merah); pemeriksaan darah berikutnya menunjukkan peningkatan jumlah trombosit,

Rontgen dada,

Analisa air kemih yang bisa menunjukkan adanya nanah atau protein dalam air kemih.
Penanganan Penderita

Bila ada kasus dilaporkan ke instansi kesehatan dengan segera.

Isolasi tidak dilakukan.

Tidak diperlukan desinfeksi serentak.

Tidak perlu karantina.

Imunisasi dengan kontak tidak dilakukan.

Investigasi dilakukan jika terjadi KLB untuk mengetahui etiologi dan faktor risiko.

September 4, 2005

BAYI TAK BUTUH ‘KEHANGATAN’ BERLEBIHAN

Filed under: Knowledges

Moms yg lagi bingung, baca2 ini ada manfaatnya kali yaa…

dr. H. M. Hadat, Sp.A

Niat mulia tak selamanya berbuah positif. Memberi
kehangatan yang berlebihan pada bayi, mis., bisa jadi
bumerang. Selama ini orang tua begitu takut bayinya
kedinginan, sehingga merasa perlu mempersenjatai
putra-putri tersayang dengan baju hangat, selimut,
topi, sarung tangan, sampai kaus kaki tebal. Bahkan
ada orang tua yang sampai menutup rapat-rapat pintu,
jendela, lubang angin, melarang pemakaian kipas angin,
mematikan AC hanya agar bayinya selamat dari bahaya
‘masuk angin’.

Tak ketinggalan, kebiasaan membaluri minyak telon atau
minyak kayu putih di tubuh bayi. Padahal di samping
bikin kepanasan, minyak-minyak itu juga bisa mengubah
kulit bayi menjadi kehitaman dan hangus. Pendek kata,
banyak orang tua tak sadar, kepungan ’sarana dan
prasarana penghangat’ justru menjadi penyebab bayi
menangis lantaran kegerahan.

Gerah membuat bayi banyak mengeluarkan keringat,
sehingga kehilangan banyak air dengan garam-garamnya.
Alhasil, dia jadi gampang haus, badan lemah sehingga
mudah terkena batuk-pilek. Jadi banyak orang tua
selama ini memperlakukan bayinya secara salah alias
salah kaprah. Begitulah kira-kira. Mengapa? Karena
bayi punya jaringan asam cokelat!

Begini penjelasannya:
Setiap manusia butuh energi untuk melakukan beragam
aktivitas. Energi itu datang dari hasil pembakaran
gula, lemak, maupun protein. Kelebihan gula dalam
darah, mis., diubah oleh hormon insulin menjadi
glikogen, sehingga kadar gula darah tetap dalam
batas-batas normal. Glikogen ini menjadi cadangan
energi yang terutama disimpan di dalam otot, jantung,
dan hati. Cadangan energi glikogen hanya cukup untuk
memenuhi kebutuhan energi tubuh selama 24 jam. Hal
ini berbeda dengan cadangan energi dari lemak yang
dapat memenuhi kebutuhan energi tubuh selama beberapa
pekan. Karena tidak larut dalam air, pembakaran lemak
jadi lebih stabil dan lebih dapat diandalkan ketimbang
pembakaran gula yang larut dalam air. Itu sebabnya,
jika ada beban pekerjaan nan berat, jantung dan otot
lebih banyak memakai energi dari lemak.

Selanjutnya, kelebihan lemak dalam darah akan disimpan
di jaringan lemak. Jaringan lemak sendiri ada 2
macam. Pertama, jaringan lemak putih yang menyimpan
lemak dalam selnya, dan tersebar di seluruh tubuh,
terutama rongga perut dan jaringan di bawah kulit.
Kedua, jaringan lemak cokelat, terutama terdapat pada
bayi yang lahir cukup bulannya dan terbatas ada di
jaringan bawah kulit leher dan punggung.

Jaringan lemak cokelat ini makin berkurang dan
menyusut pada anak yang lebih besar dan hanya
tertinggal sedikit pada orang dewasa. Dia bisa
membuang kelebihan energi, mis., akibat makan
berlebihan, dengan membakarnya menjadi panas.
Keistimewaan lain, selnya dapat menyimpan sampai 40%
lemak bayi. Kenaikan suhu tubuh oleh jaringan ini
bisa mencapai tiga kali lipat ketimbang kenaikan suhu
yang disebabkan aktivitas olahraga.

Jelas sudah, dengan bekal jaringan lemak cokelatnya,
bayi tidak mudah kedinginan. Sebaliknya, mudah
kepanasan. Dibandingkan dengan orang dewasa muda,
daya tahan bayi terhadap udara dingin lebih tinggi
sekitar 50 der.C. Jadi, jika orang dewasa sudah
menggigil pada suhu 20 der.C, bayi tidak merasakan hal
yang sama. Buat bayi suhu 20 der.C setara dengan 25
der.C. Sebaliknya, suhu 25 der.C yang cukup dingin
buat orang dewasa bisa bikin bayi kegerahan. Sebab,
25 der.C - nya orang dewasa sama dengan 30 der.C - nya
bayi.

Itu sebabnya, meski berada di ruang ber-AC, bayi belum
tentu kedinginan. Juga tak perlu dipanasi dengan
minyak telon atau minyak kayu putih. Susu pun tidak
perlu selalu dicampur dengan air hangat. Bayi berumur
beberapa bulan bahkan lebih suka susunya didinginkan
di lemari es. Kalau boleh memilih, bayi pasti lebih
suka mandi dengan air dingin, apalagi kalau udara
sedang panas. Kesimpulannya, jangan membandingkan
kondisi bayi dengan kita, orang dewasa!

Informasi yg bagus banget nih..jadi bikin kita ngerti gimana seharusnya kita memperlakukan bayi kita..secara mereka blum bisa mengutarakannya secara jelas…:)
Semoga artikel ini bermanfaat buat semua :)






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome | Theme designs available here